Kalau ngomongin teknologi zaman sekarang, bikin perahu kayu mungkin terdengar biasa. Tapi bagaimana kalau perahunya dibuat lebih dari 1.000 tahun lalu dan sebagian tekniknya masih bikin peneliti penasaran? Salah satu contohnya adalah Perahu Kuno Punjulharjo yang ditemukan di Rembang, Jawa Tengah. Perahu ini diperkirakan berasal dari sekitar 660–780 Masehi, berdasarkan penanggalan radiokarbon pada tali ijuknya. Artinya, ketika perahu ini dibuat, Indonesia masih berada di masa kerajaan-kerajaan kuno. Yang bikin mindblowing, para pembuatnya sudah mampu menghasilkan struktur perahu yang kompleks tanpa mengandalkan teknologi modern.
Beberapa hal dari Perahu Punjulharjo yang bikin teknologi pembuatannya terasa jauh lebih maju dari zamannya:
• Papan perahu tidak sekadar dipaku
Tradisi pembuatan perahu Nusantara kuno mengenal teknik sewn-plank and lashed-lug, yaitu papan lambung disatukan menggunakan ikatan serat tumbuhan melalui bagian papan yang dibuat menonjol. Jadi, konstruksinya lebih mirip “dijahit” dan diikat daripada dipaku seperti kapal modern.
• Tali ijuk ternyata punya peran penting
Pada Punjulharjo, tali dari serat ijuk menjadi salah satu bukti penting mengenai teknik konstruksinya. Hasil radiokarbon terhadap tali tersebut menghasilkan usia sekitar 660–780 Masehi. Material sederhana ini ternyata mampu menjadi bagian dari sistem pengikat struktur perahu selama berabad-abad.
• Mereka sudah memahami fleksibilitas kayu
Papan kayu harus dibentuk mengikuti kontur lambung. Tradisi pembuatan kapal kayu Nusantara menunjukkan bahwa panas dan tekanan dapat digunakan untuk membentuk papan tanpa mesin modern. Teknik semacam ini bahkan masih ditemukan dalam pembuatan kapal tradisional Indonesia.
• Teknologi ini bukan cuma milik satu tempat
Arkeologi menunjukkan bahwa tradisi perahu dengan papan yang diikat atau “dijahit” pernah berkembang di berbagai wilayah Asia Tenggara selama berabad-abad. Penelitian menunjukkan adanya perubahan bertahap dari ikatan serat menuju penggunaan pasak kayu (treenails), sehingga teknologi kapal Nusantara sebenarnya punya sejarah evolusi yang panjang.
Yang paling menarik justru bukan sekadar usia perahunya, melainkan seberapa banyak pengetahuan praktis yang harus dimiliki pembuatnya. Membuat lambung yang bisa mengapung, kuat menghadapi gelombang, sekaligus tetap cukup ringan jelas membutuhkan pengalaman dan pemahaman terhadap sifat kayu. Kita memang sudah bisa mengetahui sejumlah teknik penyambungan berdasarkan bukti arkeologis, jadi bukan berarti cara pembuatannya benar-benar “hilang misterius”. Namun, detail seperti urutan kerja, standar pengukuran, cara menentukan bentuk lambung, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi tidak semuanya bisa direkonstruksi secara pasti dari kayu yang tersisa. Bahkan penelitian mengenai tradisi sewn boat Asia Tenggara menunjukkan bahwa teknik pembuatan kapal mengalami perubahan dari masa ke masa, tetapi tetap mempertahankan ciri khas tertentu. Hal inilah yang membuat perahu kuno seperti Punjulharjo terasa seperti “manual teknologi” dari masa lalu yang sebagian halamannya masih hilang.
Pada akhirnya, Perahu Kuno Punjulharjo bukan cuma peninggalan kayu tua. Ia menjadi bukti bahwa masyarakat Nusantara lebih dari 1.000 tahun lalu sudah memiliki pengetahuan maritim yang rumit. Semakin dipelajari, justru semakin kelihatan bahwa teknologi nenek moyang bukan sesederhana yang sering kita bayangkan.