Kalau biasanya desa identik sama sawah, rumah warga, atau jalanan yang adem, ada satu desa di Sulawesi Tengah yang suasananya justru bikin berasa lagi masuk film sejarah. Namanya Desa Doda, di Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso. Desa ini berada di kawasan Lembah Besoa, bagian dari wilayah megalitik Lore Lindu, yang menyimpan berbagai peninggalan batu kuno, termasuk arca manusia, batu berukir, dan wadah kubur dari masa prasejarah. Jadi, kalau lihat batu-batu di sana jangan langsung dikira cuma batu biasa, karena sebagian ternyata merupakan hasil karya manusia ribuan tahun lalu.
Beberapa hal unik dari peninggalan batu di kawasan ini:
- Ada arca yang bentuknya menyerupai manusia. Salah satu yang terkenal adalah Arca Tadulako, sebuah batu yang dipahat menyerupai sosok manusia dengan wajah, mata, telinga, serta bagian tubuh yang dibuat cukup jelas. Arca ini berada di Situs Tadulako di Desa Doda.
- Ukirannya bukan sekadar coretan random. Pada sejumlah peninggalan megalitik Lore Lindu ditemukan motif wajah manusia, bentuk geometris, garis, hingga ornamen tertentu. Pola-pola tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masa itu sudah memiliki kemampuan mengolah batu sekaligus sistem simbol yang kemungkinan berkaitan dengan kepercayaan dan penghormatan terhadap leluhur.
- Ada batu yang berkaitan dengan penguburan. Salah satu benda khas kawasan ini adalah kalamba, yaitu wadah batu berukuran besar yang digunakan sebagai tempat penguburan. Beberapa di antaranya mempunyai penutup batu yang disebut tuatena dan bahkan dihiasi ukiran.
- Usianya benar-benar tua. UNESCO mencatat bahwa peradaban megalitik di kawasan Lore Lindu kemungkinan telah berkembang sekitar 3.000 tahun lalu dan mencapai puncaknya pada periode awal zaman logam, sekitar 2.500–1.500 tahun lalu. Artinya, peninggalan tersebut sudah ada jauh sebelum masyarakat Indonesia mengenal sistem kehidupan modern seperti sekarang.
- Ada pula gambaran yang berkaitan dengan hewan. Tradisi megalitik Indonesia secara umum mengenal arca manusia maupun arca hewan, sementara di kawasan Lore Lindu sendiri ditemukan beragam bentuk pahatan dan motif pada batu. Salah satu penelitian mengenai Situs Tantaduo di Lembah Bada, misalnya, membahas Arca Watu Baula dan berbagai guratan pada tubuh arca yang dianggap memiliki makna simbolis.
Yang bikin makin menarik, kawasan Lore Lindu ternyata bukan cuma punya satu atau dua batu kuno. UNESCO mencatat terdapat lebih dari 2.000 tinggalan megalitik pada 118 situs di kawasan tersebut. Bentuknya juga beragam, mulai dari arca leluhur, kalamba, dolmen, batu berlubang, batu berukir, sampai lingkaran batu. Para peneliti melihat peninggalan ini sebagai bukti adanya masyarakat yang sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan pegunungan, bertani, memelihara hewan, berburu, dan mengembangkan teknologi pengolahan batu. Yang lebih unik lagi, sebagian tradisi masyarakat lokal saat ini masih memiliki hubungan dengan warisan budaya megalitik tersebut.
Jadi, Desa Doda dan kawasan Lore Lindu bukan sekadar tempat dengan batu-batu tua yang kebetulan masih tersisa. Di balik bentuk manusia, motif, dan pahatan pada batu tersebut ada jejak kehidupan manusia ribuan tahun lalu. Batu-batu itu bisa dibilang seperti “arsip” tanpa kertas yang masih menyimpan cerita tentang cara berpikir, kepercayaan, dan kehidupan nenek moyang di Sulawesi Tengah.